Sadar
Desember 2nd, 2011 § Tinggalkan sebuah Komentar
Selama ini, takaran kerja keras saya yang menentukan hasil yang saya dapat. Berat ringannya saya sendiri yang menentukan, sehingga hasil yang saya peroleh biasanya sudah saya maklumi saja. Misalnya, nilai jelek karena tidak belajar? Maklum. Bonus duit karena kinerja ekselen? Maklum.
Selama ini, saya sendiri yang dengan bebas memilih jalan hidup saya: kuliah apa, kerja di mana, pacaran dengan siapa, kapan menikah, tinggal di mana, dan lain-lain. Saya sadar betul langkah yang pernah diambil, sehingga walaupun ada satu-dua penyesalan, saya tidak terlalu kecewa. Hanya sedikit lara, tapi cukup ditutup dengan konstruksi pikiran positif sedemikian rupa. Ms. Brightside.
Intinya, selama ini saya duduk di kursi pilot dalam kapal udara kehidupan saya. Saya punya kontrol atas hidup saya. Saya pikir demikian.
Tapi untuk urusan conceiving ini betul-betul di luar kuasa saya. Rumusnya berbeda dengan jalan hidup yang selama ini saya lalui. Kerja keras, belum tentu menghasilkan. Pikiran positif, belum tentu menenangkan. Satu ditambah satu, belum tentu dua.
Mereka bilang, “sabar, belum rejekinya.” “adopsi saja.” “kamu dipikirin banget sih, relax dong.” “kakak-kakakmu dulu kok lancar-lancar aja ya.” “bisa ga sih bikinnya?” “kecapean tuh.” “jangan jalan cepet2 lain kali, jangan2 kamu makan yang kecut2 ya?”. O for the love of God, tak satu pun dari kalimat itu membuatku merasa lebih baik. Walaupun begitu, terimakasih, karena semakin menyadarkan betapa tak berdayanya saya dalam blueprint kehidupan saya.
Kesombongan saya selama ini terpapras habis. Semakin sadar akan hadirnya Yang Kuasa dan kecilnya diri ini di hadapanNya. Tidak habis rasanya ingin mendaraskan syukur, atas pedih yang mendatangkan sadar dan takwa.
Love you always, Tama & Dita